Rabu, 17 Desember 2008

Hikmah x Renungan x "Bocah Misterius"

Ada sebuah artikel yang cukup menarik sebagai bahan renungandan semoga ada hikmah yang bisa kita ambil. selamat membaca ...
--------------

Bocah itu menjadi pembicaraan dikampung Ketapang. Sudah tiga hari ini ia mondar-mandir keliling kampung.

Ia menggoda anak-anak sebayanya, menggoda anak-ana remaja diatasnya, dan bahkan orang-orang tua. Hal ini bagi orang kampung sungguh menyebalkan.

Yah, bagaimana tidak menyebalkan, anak itu menggoda dengan berjalan kesana kemari sambil tangan kanannya memegang roti isi daging yang tampak coklat menyala.

Sementara tangan kirinya memegang es kelapa, lengkap dengan tetesan air dan butiran-butiran es yang melekat diplastik es tersebut.

Pemandangan tersebut menjadi hal biasa bila orang-orang kampung melihatnya bukan pada bulan puasa!

Tapi ini justru terjadi ditengah hari pada bulan puasa! Bulan ketika banyak orang sedang menahan lapar dan haus. Es kelapa dan roti isi daging tentu saja menggoda orang yang melihatnya.

Pemandangan itu semakin bertambah tidak biasa, karena kebetulan selama tiga hari semenjak bocah itu ada, matahari dikampung itu lebih terik dari biasanya.

Luqman mendapat laporan dari orang-orang kampong mengenai bocah itu. Mereka tidak berani melarang bocah kecil itu menyodor-nyodorkan dan memperagakan bagaimana dengan nikmatnya ia mencicipi es kelapa dan roti isi daging tersebut.

Pernah ada yang melarangnya, tapi orang itu kemudian dibuat mundur ketakutan sekaligus keheranan.

Setiap dilarang, bocah itu akan mendengus dan matanya akan memberikan kilatan yang menyeramkan. Membuat mundur semua orang yang akan melarangnya.

***
Luqman memutuskan akan menunggu kehadiran bocah itu. Kata orang kampung, belakangan ini, setiap bakda zuhur, anak itu akan muncul secara misterius.

Bocah itu akan muncul dengan pakaian lusuh yang sama dengan hari-hari kemarin dan akan muncul pula dengan es kelapa dan roti isi daging yang sama juga!

Tidak lama Luqman menunggu, bocah itu datang lagi. Benar, ia menari-nari dengan menyeruput es kelapa itu. Tingkah bocah itu jelas membuat orang lain menelan ludah, tanda ingin meminum es itu juga.

Luqman pun lalu menegurnya.. Cuma,ya itu tadi,bukannya takut, bocah itu malah mendelik hebat dan melotot, seakan akan matanya akan keluar.

“Bismillah.. .” ucap Luqman dengan kembali mencengkeram lengan bocah itu. Ia kuatkan mentalnya. Ia berpikir,kalau memang bocah itu bocah jadi-jadian, iaakan korek keterangan apa maksud semua ini.

Kalau memang bocah itu “bocah beneran” pun, ia juga akan cari keterangan, siapa dan dari mana sesungguhnya bocah itu.

Mendengar ucapan bismillah itu, bocah tadi mendadak menuruti tarikan tangan Luqman. Luqman pun menyentak tangannya, menyeret dengan halus bocah itu, dan membawanya ke rumah.

Gerakan Luqman diikuti dengan tatapan penuh tanda tanya dari orang-orang yang melihatnya.
“Ada apa Tuan melarang saya meminum es kelapa dan menyantap roti isi daging ini? Bukankah ini kepunyaan saya?” tanya bocah itu sesampainya di rumah Luqman, seakan-akan tahu bahwa Luqman akan bertanya tentang kelakuannya. Matanya masih lekat menatap tajam pada Luqman.

“Maaf ya, itu karena kamu melakukannya dibulan puasa,” jawab Luqman dengan halus,”apalagi kamu tahu, bukankah seharusnya kamu juga berpuasa? Kamu bukannya ikut menahan lapar dan haus, tapi malah menggoda orang dengan tingkahmu itu..”

Sebenarnya Luqman masih akan mengeluarkan uneg-unegnya, mengomeli anak itu. Tapi mendadak bocah itu berdiri sebelum Luqman selesai. Ia menatap Luqmanlebih tajam lagi.

“Itu kan yang kalian lakukan juga kepada kami semua! Bukankah kalian yang lebih sering melakukan hal ini ketimbang saya..?! Kalian selalu mempertontonkan kemewahan ketika kami hidup dibawah garis kemiskinan pada sebelas bulan diluar bulan puasa?

Bukankah kalian yang lebih sering melupakan kami yang kelaparan, dengan menimbun harta sebanyak-banyaknya dan melupakan kami?

Bukankah kalian juga yang selalu tertawa dan melupakan kami yang sedang menangis?

Bukankah kalian yang selalu berobat mahal bila sedikit saja sakit menyerang, sementara kalian mendiamkan kami yang mengeluh kesakitan hingga kematian menjemput ajal..?!

Bukankah juga di bulan puasa ini hanya pergeseran waktu saja bagi kalian untuk menahan lapar dan haus?

Ketika bedug maghrib bertalu, ketika azan maghrib terdengar, kalian kembali pada kerakusan kalian…!?”

Bocah itu terus saja berbicara tanpa memberi kesempatan pada Luqman untuk menyela.

Tiba-tiba suara bocah itu berubah. Kalau tadinya ia berkata begitu tegas dan terdengar “sangat” menusuk, kini ia bersuara lirih, mengiba.

“Ketahuilah Tuan.., kami ini berpuasa tanpa ujung, kami senantiasa berpuasa meski bukan waktunya bulan puasa, lantaran memang tak ada makanan yang bisa kami makan. Sementara Tuan hanya berpuasa sepanjang siang saja.

Dan ketahuilah juga, justru Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan lah yang menyakiti perasaan kami dengan berpakaian yang luar biasa mewahnya, lalu kalian sebut itu menyambut Ramadhan dan ‘Idul Fithri?

Bukankah kalian juga yang selalu berlebihan dalam mempersiapkan makanan yang luar biasa bervariasi banyaknya, segala rupa ada, lantas kalian menyebutnya dengan istilah menyambut Ramadhan dan ‘Idul Fithri?

Tuan.., sebelas bulan kalian semua tertawa di saat kami menangis, bahkan pada bulan Ramadhan pun hanya ada kepedulian yang seadanya pula.

Tuan.., kalianlah yang melupakan kami, kalianlah yang menggoda kami, dua belas bulan tanpa terkecuali termasuk di bulan ramadhan ini. Apa yang telah saya lakukan adalah yang kalian lakukan juga terhadap orang-orang kecil seperti kami…!

Tuan.., sadarkah Tuan akan ketidak abadian harta?

Lalu kenapakah kalian masih saja mendekap harta secara berlebih?

Tuan.., sadarkah apa yang terjadi bila Tuan dan orang-orang sekeliling Tuan tertawa sepanjang masa dan melupakan kami yang semestinya diingat?

Bahkan, berlebihannya Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan bukan hanya pada penggunaan harta, tapi juga pada dosa dan maksiat.. Tahukah Tuan akan adanya azab Tuhan yang akan menimpa?

Tuan.., jangan merasa aman lantaran kaki masih menginjak bumi. Tuan…, jangan merasa perut kan tetap kenyang lantaran masih tersimpan pangan ‘tuk setahun, jangan pernah merasa matahari tidak akan pernah menyatu dengan bumi kelak….”

***

Wuahh…, entahlah apa yang ada di kepala dan hati Luqman. Kalimat demi kalimat meluncur deras dari mulut bocah kecil itu tanpa bisa dihentikan.

Dan hebatnya, semua yang disampaikan bocah tersebut adalah benar adanya!
Hal ini menambah keyakinan Luqman, bahwa bocah ini bukanlah bocah sembarangan.

Setelah berkata pedas dan tajam seperti itu, bocah itu pergi begitu saja meninggalkan Luqman yang dibuatnya terbengong-bengong.

Di kejauhan, Luqman melihat bocah itu menghilang bak ditelan bumi.
Begitu sadar, Luqman berlari mengejar ke luar rumah hingga ke tepian jalan raya kampung Ketapang. Ia edarkan pandangan ke seluruh sudut yang bisa dilihatnya, tapi ia tidak menemukan bocah itu.

Ditengah deru nafasnya yang memburu, ia tanya semua orang di ujung jalan, tapi semuanya menggeleng bingung. Bahkan, orang-orang yang menunggu penasaran didepan rumahnya pun mengaku tidak melihat bocah itu keluar dari rumah Luqman!

Bocah itu benar-benar misterius! Dan sekarang ia malah menghilang!

Luqman tidak mau main-main. Segera ia putar langkah, balik ke rumah. Ia ambil sajadah, sujud dan bersyukur. Meski peristiwa tadi irrasional, tidak masuk akal, tapi ia mau meyakini bagian yang masuk akal saja. Bahwa memang betul adanya apa yang dikatakan bocah misterius tadi.

Bocah tadi memberikan pelajaran yang berharga, betapa kita sering melupakan orang yang seharusnya kita ingat.. Yaitu mereka yang tidak berpakaian, mereka yang kelaparan, dan mereka yang tidak memiliki penghidupan yang layak.

Bocah tadi juga memberikan Luqman pelajaran bahwa seharusnya mereka yang sedang berada diatas, yang sedang mendapatkan karunia Allah, jangan sekali-kali menggoda orang kecil, orang bawah, dengan berjalan membusungkan dada dan mempertontonkan kemewahan yang berlebihan.

Marilah berpikir tentang dampak sosial yang akan terjadi bila kita terus menjejali tontonan kemewahan, sementara yang melihatnya sedang membungkuk menahan lapar.

Luqman berterima kasih kepada Allah yang telah memberikannya hikmah yang luar biasa. Luqman tidak mau menjadi bagian yang Allah sebut mati mata hatinya.

Sekarang yang ada dipikirannya sekarang , entah mau dipercaya orang atau tidak, ia akan mengabarkan kejadian yang dialaminya bersama bocah itu sekaligus menjelaskan hikmah kehadiran bocah tadi kepada semua orang yang dikenalnya, kepada sebanyak-banyaknya orang.
Kejadian bersama bocah tadi begitu berharga bagi siapa saja yang menghendaki bercahayanya hati.

Pertemuan itu menjadi pertemuan yang terakhir. Sejak itu Luqman tidak pernah lagi melihatnya, selama-lamanya. Luqman rindu kalimat-kalimat pedas dan tudingan-tudingan yang memang betul adanya.

Luqman rindu akan kehadiran anak itu agar ada seseorang yang berani menunjuk hidungnya ketika ia salah.

---------
judul : hikmah bocah misterius

Senin, 10 November 2008

PELANGI x TAMAN x LAUT

bukankah pelangi itu sangat indah,
karena perbedaan diantara warna-warna yang menyusunnya ??

DAN

bukankah taman itu akan tampak lebih indah
jika dihiasi dengan keanekaragaman bunga-bunga yang saling melengkapi ??

DAN

bukankah keindahan laut
juga dikarenakan adanya perbedaan satwa yang ada di dalamnya ??

Selasa, 02 September 2008

IT dan EQ

Ada suatu artikel yang cukup menarik yang saya dapatkan untuk dibaca dan dipahami. Artikel ini saya ambil dari sebuah milis yang saya ikuti, semoga postingan ini bisa bermanfaat bagi kita semua.
------------------------------------------------------**
*Artikel Dari Sebuah harian*

Pak Anthony Dio Martin,
Saya pernah mendengar Anda membahas di siaran radio soal orang IT(information technology) yang EQ (kecerdasan emosional)-nya rendah. Sayapun punya masalah yang sama. Seorang manajer di tempat kami yang beradadi IT, orangnya pinter tapi kemampuan sosialnya kurang. Kalau bicara,sering saya tidak paham, begitu juga yang lainnya. Jadinya sering kali terjadi perdebatan.
Tadinya kupikir saya yang kurang pintar. Masalahnya, dia pegang sistem yang penting yang jadi jantungnya perusahaan. Orangnya pun saya lihat tidak suka berbagi pengetahuan.
Pernah saya coba dekati tapi malahan saya yang jadi salah tingkah.Ngobrol-nya jadi kaku sekali. Maka, saya setop. Saya sebenarnya kasihan juga dan ingin bantu dia, tetapi tidak tahu bagaimana bicara sama dia.
Pertanyaan saya, apakah semua orang IT seperti itu? Saya pun ngeridengan anak saya yang ada di SMA yang senang main komputer dan punyacita-cita masuk Teknik Komputer. Apa saran Bapak bagi para manager maupun orang tua seperti saya?
*Jarot S,* xxxx

//
Jawaban

Pak Jarot serta para pembaca, memang pernah ada penelitian di sekitar tahun 1997 yang mengungkapkan bahwa orang-orang IT secara EQ jauh lebih rendah dibandingkan dengan profesi lainnya. Bahkan topik ini pun pernah dimuat di salah satu majalah bisnis yang diakui kredibilitasnya, HarvardBusiness Review.

Menurut isi artikel tersebut, ada beberapa tanda yang biasanya dijumpai pada orang IT yang menyebabkan mengapa mereka kemudian dianggap ber-EQ rendah. Namun, sebelum membaca lebih jauh tanda-tanda ini, tentunya hal ini lebih merupakan sebuah stereotipe daripada kenyataan yang sebenarnya. Karena saya pun percaya, tidak berarti semua orang IT demikian. Bahkan, saya mengenal banyak teman di IT yang pergaulan sosial serta kariernya luar biasa. Jadi, hal ini sebaiknya tidak digeneralisasikan untuk semuaorang IT.

Beberapa ciri pada orang IT yang kemudian dianggap EQ-nya kurang seperti:
(1) orang-orang IT dianggap lebih banyak menggunakan IQ daripada EQ dalam pekerjaannya,
(2) mereka lebih sulit berempati dan jarang menggunakan perasaannya dalam bertindak,
(3) secara sosial pun orang IT lebih sulit untuk bersosialisasi dengan orang lain, serta
(4) orientasinya lebih banyak berhubungan dengan teknis (job) daripadamanusia (people).

Hal ini diperparah lagi dengan berbagai realitas dan keluhan yang membuat orang IT dilabel demikian. Misalnya, kehidupan mereka yang berada di antara kotak komputernya. Bahkan, seorang istri pernah berkomentar soal suaminya, "Saat di depan komputer, itulah saat mereka di dunia mereka sesungguhnya" .

Faktanya, kehidupan sosial merekapun jadi kurang, karena kebanyakan hanya bergaul dan berinteraksi dengan orang-orang yang seminat dan kurang berbaur dengan unit lain di kantor. Bahkan, beberapa diantaranya sulit memahami kebutuhan orang lain, sehingga sering terjadi konflik dengan unit lain karena beda persepsi.
*Kurang fair*

Namun, realitas lain juga terkadang menunjukkan ada sikap kurang fair terhadap rekan-rekan kita di IT. Berbagai perlakuan 'khas' dan kurang fair yang sering kali dialami rekan-rekan IT misalnya: mereka diperlakukan hanya sebagai trouble shooter, hanya kalau ada masalah. Saat segalanya berjalan lancar, tidak diapresiasi sama sekali.

Orang ITpun jarang dilibatkan dalam pengambilan keputusan penting, hanyasoal-soal teknis saja baru mereka dilibatkan. Makanya, jangan heran kalau orang IT sering jadi kehilangan konteks dengan gambaran besar suatu proyek yang tengah dikerjakan. Dan buruknya, para orang IT-pun sering dicap nerd, dikotakkan dan ditinggalkan. Mereka kurang dirangkul, baik dalam pergaulan sehari-hari maupun dalam berbagai proyek penting di kantor. Maka, kondisi sosial mereka yang buruk pun kadang menjadi tanggung jawab kita pula.

Di sinilah saya ingin menekankan mengapa EQ justru menjadi sangat penting bagi orang IT dewasa ini.
Pertama, IT merupakan fungsi yang sangat vital. Banyak informasi dan data penting dapat diakses oleh orang IT. Dari data keuangan perusahaan hingga data pribadi setiap karyawan. Bayangkan jika karakter orang IT itu bermasalah, data-data tersebut bisa disalahgunakan untuk hal yang merusak.
Kedua, orang-orang IT punsebenarnya banyak bersinggungan dengan pihak lain. Tidak diragukan lagi,IT adalah support bisnis yang penting dewasa ini. Tanpa memiliki EQ yang baik, orang IT akan jadi sering konflik dengan pihak lain.
Ketiga, tentunya ini juga menjadi tantangan bagi orang ITsendiri. Berbagai stereotipe pada orang IT yang dipaparkan di atas justru akan menjadi tantangan bagi mereka untuk menepis semua stereotipeyang keliru itu.

Nah, hingga di sini kita menjawab pertanyaan: apa saran serta tips yang bisa diberikan kepada para orang IT ini? Pertama-tama, orang IT harus Get out of your box. Jangan hanya bicara soal IT saja. Saya selalu menyarankan agar mereka berusaha punya minat dengan bidang-bidang lain,khususnya yang lebih banyak berhubungan dengan otak kanan seperti seni dan hobi lain.

Inilah yang harus Anda sarankan pada anak Anda. Terlibatlah untuk mengajaknya memasuki hobi yang berbeda, yang mengasah otak emosinya.Selain itu, di pekerjaan pun orang IT sangat disarankan untuk mau tahu serta terlibat dengan bidang-bidang lain. Selain soal IT, saya selalu menyarankan agar para IT guys berusaha membangun business sense mereka. Bukan hanya bicara soal teknis saja, mereka pun harus bisa berbicara dari bahasa dan sudut pandang para user sehingga mereka akan lebih disukai. Inilah sebenarnya kendala utamanya.

Di sisi lain, saya menyarankan mereka lebih banyak membaca, mendengar bahkan sesekali mengikuti seminar yang berusaha mengimbangi hal-hal teknis IT dengan hal-hal yang bersifat people skills.

Akhirnya, saya pun menyarankan orang-orang IT selalu berusaha mengetahui area-area dalam EQ yang masih kurang. Caranya, dengan meminta feedback dari orang lain dan berusahalah menutupi area yang kurang tersebut dengan komitmen mengembangkan diri yang lebih baik.

Nah, untuk Pak Jarot dan juga pembaca lainnya, libatkanlah rekan-rekan IT dalam berbagai pergaulan dan pertemuan, sehingga mereka pun belajar mengasah EQ serta business sense mereka.

Akhirnya, saya seringkali mengatakan bahwa "Yang menakutkan kita bukanlah komputer yang bisa berpikir seperti manusia, tetapi pikirannya seperti komputer".

Salah satu masalah komputer adalah mereka tidak berperasaan. So,tanggung jawab kita semua juga untuk mengembangkan orang IT yang ber-EQtinggi!

Semoga Bisa Mengambil Maknanya. Jaya IT Indonesia